Pemilihan Guru Dikmen dan Diksus Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2019: Kehadiran Siswa Memberi Warna Baru

admin Berita Leave a Comment

Sejumlah siswa dihadirkan ke ajang final pemilihan Guru Dikmen dan Diksus Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019. Siswa-siswa tersebut berasal dari SMA, SMK serta SLB dengan berbagai ketunaan.

Inovasi baru terlihat di Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Direktorat PG Dikmen dan Diksus), Ditjen GTK, Kemendikbud. Pemilihan Guru Dikmen dan Diksus Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional yang merupakan agenda tiap tahun pada tahun 2019 ini mencoba menghadirkan beberapa siswa di dalam ruang presentasi peserta. Siswa-siswi ini adalah pelajar pilihan dari beberapa sekolah di Jakarta. Termasuk siswa-siswi dari lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Seperti diketahui bahwa pada gelaran pemilihan guru Dikmen dan Diksus berprestasi dan berdedikasi tingkat nasioal tahun 2019 diikuti peserta sebanyak 164 orang guru yang tersebar meliputi:

  1. Pemilihan Guru SMA Berprestasi sebanyak 34 peserta
  2. Pemilihan Guru SMK Berprestasi sebanyak 34 peserta
  3. Lomba Kreativitas Guru SDLB sebanyak 22 peserta
  4. Lomba Kreativitas SMPLB sebanyak 17 peserta
  5. Lomba Kreativitas SMALB sebanyak 19 peserta
  6. Pemilihan Guru Dikmen dan Diksus Berdedikasi sebanyak 19 peserta
  7. Pemilihan Guru Berprestasi di Sekolah Inklusif sebanyak 19 peserta

Tiap kategori lomba akan dipilih juara 1, 2, dan 3 dan masing-masing juara akan menerima uang pembinaan sebesar 20 juta rupiah, 15 juta rupiah dan 10 juta rupiah.

Siswa-siswa ini mencermati peserta yang sedang presentasi dan memberikan penilaian dengan bobot 5 persen.

Sementara itu, jumlah siswa yang dihadirkan pada tiap ruang presentasi kurang lebih 10 siswa. Para pelajar ini berasal dari beberapa SMA dan SMK berbagai jurusan, ada perhotelan, pemasaran, perkapalan dan lain-lain. Pelajar dari SLB berasal dari beberapa SLB baik negeri dan swasta dengan ketunaan yang berbeda-beda, ada tunanetra, tunarungu wicara. Akan tetapi peserta didik yang tunarungu bisa mendengar dengan menggunakan alat bantu dan bisa bicara dengan kekhasannya.
Kehadiran siswa dalam ruang presentasi ini merupakan gagasan dari Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, MPA. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengatakan bahwa guru yang baik dan profesional itu pada akhirnya bukan terlihat baik dan profesional di mata juri yang berasal dari kalangan akademis saja meskipun mereka bergelar profesor, doktor dan lain sebagainya. “Guru profesional itu harus mampu menjadi pengajar, artinya apa yang disampaikan mudah dimengerti dan dipahami peserta didiknya, juga harus menjadi katalisator yang mampu mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi peserta didiknya. Selain itu guru profesional juga harus menjadi fasilitator, bisa membantu peserta didik menjadi teman diskusi sehingga anak-anak bisa berinovasi untuk pengembangan dirinya, juga harus menjadi katalisator atau menghubungkan peserta didiknya dengan berbagai sumber belajar, dan terakhir guru harus menjadi penjaga gawang yang berarti seorang guru harus mampu menyaring hal-hal negatif dari lingkungan sekitar termasuk dari dunia maya yang saat ini berkembang begitu pesat. Guru masa kini seperti itulah yang harus bisa kita lahirkan melalui ajang bergengsi ini. Apalagi sekarang sudah era digital, guru harus bersiap menghadapi revolusi industri 4,0,” papar Bu Direktur.
Ditambahkan oleh Bu Direktur, arti penting kehadiran peserta didik dalam lomba ini yang bukan sekedar untuk mendengar dan melihat. “Mereka juga kita beri kesempatan untuk menilai calon guru berprestasi dan berdedikasi tingkat nasional. Meskipun prosentasi penilaian dari siswa hanya 5 persen tetapi itu sangat menentukan. Dengan kehadiran peserta didik ini kita bisa melihat apakah guru-guru hanya cerdas untuk dirinya sendiri dan kecerdasan itu untuk pertunjukan kepada juri saja. Guru terbaik dari provinsi-provinsi ini apakah sudah menjadi guru profesional sesuai era yang berkembang saat ini. Peserta didik yang dihadirkan di sini adalah anak-anak pilihan yang sebagian besar kritis-kritis?” lanjutnya.

Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, MPA ketika mengunjungi stand pameran siswa SLB pada sebuah acara di Bangka Belitung.

Benar apa yang disampaikan Bu Direktur, selama proses presentasi, para pelajar yang dihadirkan sebagian besar kritis dan kerap bertanya. Beberapa siswa sempat kami wawancarai untuk menyampaikan pendapat para guru dalam kemampuan penguasaan dan penyampaian materi pelajaran. Dua peserta didik perempuan dari SLB A + Ganda Elsafan bernama Esrat Hutabarat, kelas XI dan Asat Dimorehe, kelas IX. Keduanya merupakan peserta didik dari SLB A + Ganda El Safan yang beralamat di Jl Betung Raya No. 49 Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Esrat Hutabarat, kelas XI dan Asat Dimorehe, kelas IX. Keduanya yang merupakan peserta didik dari SLB A + Ganda El Safan

Keduanya sama-sama memuji guru SMPLB yang membuat kreativitas untuk peserta didik, akan tetapi sebagian besar belum bisa menyampaikan materi dengan baik.  “Gagasan yang disampaikan bagus-bagus, ada yang kreatif membuat huruf braille bahasa Arab. Tetapi braille bahasa Arab dengan braille bahasa Indonesia itu berbeda. Saya pernah baca braille Bahasa Arab benar-benar berbeda. Tugas guru harus membuat cara menyampaikan bagaimana supaya mudah dipahami siswa. Tetapi tadi hingga selesai memaparkan saya tidak paham juga,” ujar Esrat.

 

 

Asat Dimorehe

Sementara rekan satu sekolah yang juga tunanetra dan bernama Asat Dimorehe yang merupakan siswi kelas XI mengatakan. ”Saya juga tidak mengerti apa yang tadi disampaikan. Idenya sih, menarik,” kataya sembari tersenyum.

 

 

 

 

Emma Yovela pelajar kelas XI di SMA Negeri 62 Jakarta yang berlokasi di Dahak, Senayan

Dari ruang presentasi guru SMA berprestasi, dua pelajar yang sempat diwawancarai adalah Emma Yovela atau yang akrab disapa Emma. Dia adalah pelajar kelas XI di SMA Negeri 62 Jakarta yang berlokasi di Dahak, Senayan. Juga ada pelajar bernama Haikal Riky Hakim pelajar SMA Negeri 46 Jakarta dan duduk di bangku kelas XI. “Guru-guru yang presentasi tadi bagus-bagus, tetapi banyak yang asyik sendiri, interaksi dengan siswa sangat kurang, mungkin kurang percaya diri karena ada juri. Ada yang tangannya sampai gemetaran gitu,” kata Emma.
Jika dibandingkan dengan guru-guru Emma yang biasa mengajar di sekolah, katanya hampir sama. “Yang di sini bagus dalam gagasan. Hanya penyampaian yang kurang, tapi ada yang bagus seperti guru ekonomi saya di sekolah,” lanjut Emma.

Haikal Riky Hakim pelajar SMA Negeri 46 Jakarta kelas XI IPS

Senada dengan Emma, Haikal mengakui calon guru SMA berprestasi yang diikutinya dalam ruang presentasi sangat kaya gagasan. “Kalau menurut saya gagasan-gagasan itu cukup bagus, tiap guru membawa inovasi yang berbeda-beda dan banyak yang disesuaikan dengan ciri khas daerah masing-masing. Tetapi, apakah inovasi itu asli gagasan guru tersebut atau bagaimana saya kurang tahu, juri-juri yang Doktor dan Profesor pasti tahu hal itu,” ujar Emma.

Sementara, Haikal menilai banyak guru yang masih monoton dalam menyampaikan pelajaran ke siswa. “Banyak monoton saja, ceramah terus, tidak banyak yang mendatangi dan berinteraksi dengan kami di kelas tadi, suasana tidak tegang tetapi kami bisa ngantuk karena tidak ada candanya sama sekali. Kalau wawasannya bagus-bagus, banyak yang menarik. Dan saya tadi tertarik dengan penemuan gagasan domino karena cara bermainnya berbeda, domino tadi digunakan untuk memahamkan suatu materi, teryata saya merasa tertarik dan bisa paham dengan materi yang disampaikan. Kemudian ada guru agama yang mengemukakan tata cara membaca Al-Quran dengan benar sesuasi tajwid menggunakan istilah-istilah yang mudah dihafal,” kata Haikal.

Faruq Shahrajad Ahmad siswa kelas XII IPA SMA Negeri 55
Duren Tiga Jakarta Selatan

Sedangkan Faruq Shahrajad Ahmad siswa kelas XII IPA SMA Negeri 55, Duren Tiga Jakarta Selatan mengatakan ide guru finalis guru SMA berprestasi terbilang menarik-menarik. “Banyak yang menarik, tetapi sepertinya guru ini fokus dengan juri yang menilai, apakah siswa yang diajar sudah mengerti atau tidak kami tidak tahu. Guru tidak memberi kesempatan kepada kami untuk menyampaikan imbal balik atas materinya. Tetapi tadi ada guru Biologi yang membuat saya mencermati betul dan bertanya-tanya. Kebetulan saya di sekolah jurusan IPA. Guru Biologi tadi, menemukan gagasan Talking Stick untuk menjelaskan materi Biologi yang selama ini bagi saya susah dipahami, ternyata dengan temuan dia saya mengerti materi Biologi yang disampaikan,” ujar Faruq.

Preisela Natalin Kappu, siswi jurusan Asisten Keperawatan di SMK Negeri 28 Jakarta

Lain halnya dengan Preisela Natalin Kappu, siswi jurusan Asisten Keperawatan di SMK Negeri 28 Jakarta ini mengatakan rata-rata guru yang presentasi sudah bagus, tetapi masih banyak yang grogi. Ada yang bicaranya sepeti bingung gitu, terus tangannya gemetaran dan ada yang kalau menyampaikan materi banyak menyebut e, e, e gitu. Jika dibandingkan dengan guru saya di sekolah, menurut saya enakan di sekolah mungkin karena sudah terbiasa dan lebih akrab. Tetapi dari segi ide, calon guru berprestasi sangat terlihat jenius-jenius, selalu ada kreativitas dan inovasi yang muncul. Seperti tadi ada yang menjelaskan bagaimana membuat jaring-jaring ikan. Selama ini hal itu mungkin hanya bisa dilihat di televisi dan pasti akan merasa kesulitan jika ingin meniru, tetapi dengan cara yang tadi disampaikan guru ternyata menarik dan mudah diikuti,” kata perempuan yang akrab disapa Sella.

Abdul Rahman

Ada juga peserta didik yang dihadirkan berasal dari SMK Kemaritiman, dia bernama Abdul Rahman. Siswa kelas XII dari SMK Negeri 36 Jakarta. Pelajar yang biasa dipanggil Rahman ini sekolah di Jurusan Nautika. Ia sudah praktik industri dengan turun ke laut selama delapan bulan di lautan Papua. Bagi Rahman, guru-guru yang presentasi sudah layak menjadi guru berprestasi tetapi Rahman punya catatan. “Catatannya, guru ini harus lebih banyak belajar berinteraksi dengan siswa yang diajar, jangan hanya kepada juri saja. Kesiapannya juga harus lebih dimatangkan, karena benar tadi dikatakan Sela masih ada yang grogi-grogi gitu,” kata Rahman. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *